Monday, March 31, 2008

Rekayasa Genetika, Menumbuhkan Harapan dan Menyembunyikan Ancaman

Oleh DM Utomo

Tidak ada kemajuan teknologi yang memberikan harapan begitu besar untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan, yang menjanjikan kemungkinan penyembuhan berbagai macam penyakit manusia atau membudidayakan tanaman dan hewan jauh lebih baik dari pada saat sekarang, seperti rekayasa genetika (genetic engineering). Modifikasi sifat-sifat genetik tanaman, hewan atau organisme lainnya sudah diupayakan manusia sejak ribuan tahun yang lalu untuk mendapatkan sifat-sifat yang lebih menguntungkan. Namun baru kira-kira 20 tahun terakhir ini kemajuan luar biasa telah berhasil dicapai melalui rekayasa genetika.

Salah satu bentuk rekayasa genetika adalah berupa tanaman transgenik yang akhir-akhir ini banyak diributkan kehadirannya di Indonesia. Di masa-masa mendatang tanaman transgenik dan berbagai produknya akan semakin banyak memasuki Indonesia, suatu hal yang tak terhindarkan. Kita tidak perlu antipati terhadapnya, karena kita dapat menyikapinya dengan melakukan seleksi secara arif dan bijaksana, mana produk yang banyak memberikan manfaat dan mana yang membawa bencana.

Harapan Dan Janji

Melalui teknik recombinant DNA (penggabungan DNA) para ahli biologi dapat secara langsung memindahkan dan merakit berbagai bahan genetik yang dikehendaki yang berasal dari makhluk yang berlainan spesies. WH Velander, H Lubon, dan W N Drohan dalam majalah Scientific American 1997 menyatakan bahwa mereka telah berhasil mengintroduksikan gen manusia yang berperan memproduksi hormon pertumbuhan ke dalam embryo sapi secara transgenik, dengan harapan nantinya sapi tersebut akan mampu memproduksi susu yang mengandung protein alpha-1-antitrypsin. Protein tersebut hanya terdapat dalam jumlah sangat sedikit dalam darah manusia, sehingga upaya memproduksinya secara tradisional memerlukan donasi darah dalam volume yang sangat besar. Di samping itu proses pembuatannya rumit, memakan waktu lama serta biaya besar. Sedangkan dengan cara rekayasa genetika, proses produksi berlangsung secara biologis dalam tubuh ternak, dengan hasil alamiah yang mengandung berbagai protein lainnya yang juga bermanfaat bagi manusia. Para penderita hemophilia sangat memerlukan jenis protein tersebut.

Untuk menanggulangi sejenis penyakit infeksi pada tanaman, para peneliti telah mengisolasikan gen bakteri yang secara alamiah memproduksi sejenis zat beracun. Gen tadi berhasil ditanam pada bakteri lainnya yang biasa tumbuh pada akar tanaman, sehingga tanaman tersebut dapat terbebas dari hama yang sering menyerangnya.

Untuk mengatasi tanah yang berkadar garam tinggi, para ahli telah berhasil merakit gen yang tahan terhadap kadar garam tinggi pada tanaman oats. Tanaman padi juga tidak lepas dari upaya rekayasa genetika. Sedang dicoba mentransfer gen bakteri ke rantai DNA padi, agar memungkinkan tanaman padi menyerap unsur-unsur hara dari dalam tanah secara sangat efisien sehingga produksinya dapat meningkat tajam. Di lain laboratorium padi Rojolele, Cisadane, Bengawan Solo dan beberapa varietas unggul lainnya sedang dicoba dimuati gen bakteri lain, agar tanaman tahan terhadap hama penggerek batang lepidoptera.

Salah satu upaya brillian lainnya dari rekayasa genetika adalah dalam mengatasi menurunnya tingkat kesuburan tanah, yaitu dengan mentransplantasikan gen yang memungkinkan tanaman non-leguminoceae dapat mengikat nitrogen bebas di udara. Apabila ini berhasil petani akan sangat terbantu menghemat pupuk. Langkah ini akan mengurangi pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk buatan yang berlebihan.

Namun masih banyak ilmuwan yang khawatir terhadap kehadiran makhluk baru yang kandungan dan susunan genetisnya berbeda. Masih banyak pertanyaan yang menggantung dan belum pasti jawabnya. Apakah bakteri hasil rekayasa genetika yang dilepas ke alam bebas ini akan terus memberikan manfaat atau akan menimbulkan bencana di kemudian hari ? Apakah susu produksi sapi yang direkayasa genetiknya benar-benar terjamin hanya mengandung protein yang bermanfaat dan tidak ada yang berbahaya ? Kita belum tahu, dan kita hanya bisa menduga-duga.

Para ahli sependapat bahwa, sekali makhluk baru hasil rekayasa genetika (apakah itu tanaman, hewan atau organisme lain) itu dilepaskan ke alam bebas, dan apabila makhluk tersebut merugikan kehidupan manusia maka akan sangat sulit sekali serta memerlukan biaya sangat besar untuk mengendalikannya. Sepanjang makhluk tadi tidak berbahaya dan tidak merugikan manusia/alamnya tidak apa-apa, tetapi kalau sebaliknya maka tentu saja ceritanya akan lain.

Sebagian ahli berpendapat bahwa rekayasa genetik merupakan cara sembarangan (robust) karena hasil dan dampaknya tidak dapat dipastikan. Keunggulan rekayasa genetik khususnya teknik transfer gen (transgenic) adalah mampu mempercepat berlangsungnya proses evolusi kehidupan secara alamiah. Cara memanipulasi genetik dengan transfer choromoson dari satu spesies ke spesies lainnya sangat berbeda dengan perubahan genetik yang terjadi secara alamiah.

Saat ini rekayasa genetika berada pada titik puncak ilmu pengetahuan walaupun usianya relatif masih muda. Ilmu ini menawarkan banyak ragam kemungkinan bagi pengembangan sektor pertanian, peternakan, perikanan dan kesehatan. Bersamaan dengan itu revolusi ilmu pengetahuan telah membawa sesuatu yang tidak diketahui : "apa yang berada di ujung terowongan ?" Lebih banyak manfaatnya atau mudharatnya ?

Ancaman Tersembunyi

Hasil berbagai riset yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan bahwa kritikan terhadap rekayasa genetika terutama mengenai potensi bahayanya, banyak diberitakan media massa secara tidak proporsional. Banyak ilmuwan yang setuju bahwa bakteri hasil rekayasa genetika sebenarnya tidak berbahaya bagi ekosistem. Setidaknya ada dua penelitian yang membuktikan bahwa gen bakteri yang ditransfer pada biji tanaman hanya menetap di sekitar perakaran. Bakteri hanya berpindah tempat di sekitar daerah perlakuannya dengan jarak jelajah yang dekat dalam jangka waktu tertentu. Masalahnya mungkin para pengritik mengkhawatirkan dampak yang ditimbulkan bakteri dalam jangka panjang. Konsekuensi yang ditimbulkan dapat mengganggu keseimbangan alam yang barangkali baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Para pendukung rekayasa genetika keberatan kalau kegiatan ini dilarang. Bagi mereka harapan yang dapat diraih melalui revolusi teknologi rekayasa genetika jauh lebih berharga dari pada kerusakan yang mungkin timbul dan masih belum jelas betul apakah benar akan terjadi atau tidak. Keuntungan yang telah diraih dari hasil sapi super, kapas transgenik (Cotton Bt gen), dan berbagai produk transgenik lainnya jauh lebih besar dari pada ancaman bahaya yang masih remang-remang wujudnya. Bahkan banyak ilmuwan dan ahli lingkungan hidup yang berubah pikiran setelah menimbang, mengkaji, dan berdiskusi dalam berbagai forum seminar dengan para ahli rekayasa genetika.

Menimbang Secara Arif

Para ahli mengingatkan agar dunia industri dan pertanian transgenik benar-benar dimonitor dan organisme baru yang akan dilepas harus sudah lulus uji meliputi berbagai aspek. Kita harus menyadari bahwa organisme baru hasil rekayasa genetik seakan-akan mirip "makhluk asing" yang baru hadir di lingkungan kita. Sejarah mengajarkan bahwa introduksi atau pengenalan terhadap hal-hal baru dipenuhi dengan cerita kegagalan dan sering mengakibatkan penderitaan.

Beberapa pencinta lingkungan hidup dengan bijak mengingatkan bahwa biaya, tenaga, dan waktu yang telah dikeluarkan untuk rekayasa genetika sangat besar, namun hanya sedikit perhatian serta alokasi biaya yang dikerahkan untuk meneliti potensi bahayanya. Oleh karena itu cara yang paling bijak adalah dengan memahami dan mengantisipasi potensi bahaya yang kemungkinan muncul sebelum melepaskan organisme baru ke alam bebas. Fasilitas pengembangan rekayasa genetika harus didukung standar baku operasional yang sangat ketat, agar tidak ada organisme baru lolos tanpa dikehendaki.

Selanjutnya kita harus selalu waspada, arif dan bijaksana dalam mencari manfaat sebesar-besarnya dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sedapat mungkin menghindarkan efek negatifnya. Waktu nantinya yang akan membuktikan benar atau salahnya hasil karya dari rekayasa genetika, manusia hanya bisa berusaha sembari secara bijak menetapkan pilihan dalam meniti langkah. Hanya Allah SWT yang Maha Tahu ujung dari kehidupan ini akan berakhir. Amin.

DM Utomo,
pemerhati masalah lingkungan,
alumni Program Master Clemson University, AS.

0 comments: